

18 Oktober 2025
"Ayo siap-siapnya agak cepet" ucap pemilik alis tebal yang ku panggil Belanda.
Siang itu, kami akan menghadiri wisuda salah satu teman baik kami.
Seperti biasa, di jalan kami saling melempar candaan dan sesekali aku bertanya, "kamu sayang aku ga?"
Sesampainya di lokasi, wisuda belum selesai. Alhasil, kami ditambah 2 teman lain akhirnya menunggu disebuah burjo sana. Aku duduk manis, Belanda memesankan minuman dan membawa cemilan kecil.
Kami berempat saling mengobrol. Hingga ditengah-tengah obrolan, Belanda beranjak dari tempat duduk tanpa pamit entah kemana. Ia datang lagi membawa tentengan yang berisi 3 botol kopi, 1 botol air mineral dan 2 kotak susu.
Kopi untuk ia dan temannya, air mineral dingin yang ada manis-manisnya untukku dan Ultramilk cokelat untuk kami berdua.
Belanda, laki-laki galak yang sebetulnya amat sangat perhatian.
Singkat cerita, wisuda selesai.
Kami berlima (ditambah si wisudawan) akhirnya beranjak menuju sebuah peristirahatan selanjutnya. Kami mengobrol sembari menertawakan hal-hal kecil. Yang paling ku ingat adalah tentang "kosan bak ruang tahanan" milik salah satu teman kocaknya.
Sampai akhirnya Belanda pamit memisahkan diri dari mereka.
Aku dan Belanda menuju sebuah toko olahraga. Yaaa, dia kembali membeli sebuah bola.
Di tengah perjalanan, Belanda ambil kanan dan menurutku salah jalan.
"Lho, kamu mau kemana?"
"Mau beli bunga buat pacarku ah"
"Hah? gimana?", aku pura-pura tidak mendengar.
Ia mengajakku ke deretan penjual bunga dan mempersilakanku untuk memilih bunga mana yang ku inginkan. Kali ini full mawar merah.
Setelah dirangkai indah, diatas motor sembari cengengesan ia berucap "I love you, sayang"
Kami tertawa dan saat itu lumayan membahagiakan.
Aku menghargai apapun hal yang Belanda lakukan. Menurutku semua itu murni dan manis. Sampai.... [To Be Continued]

