

Pukul 19.04 lalu, Sabrina menggelar sajadah. Pada rakaat kedua, ia sadar shalatnya kurang benar lalu ia putuskan untuk mengulang.
Shalat kedua begitu khidmad, sampai pada rukuk ketiga air matanya hendak menetes tak tertahan.
Shalat selesai.
Sabrina tertegun dengan tatapan kosong. Lalu, air matanya jatuh perlahan.
Sabrina meluapkan kelemahannya. Satu per satu terurai. Pengakuan demi pengakuan terucap. Tentang semua rapuh yang kerap ia anggap sudah selesai, padahal masih tertinggal belum usai.
Semua ucapannya menjadi sebuah penerimaan.
Bahwa yang ia sebut masih cinta kemungkinan hanya angan yang belum tentu diwujudkan.
Hatinya mungkin tertinggal, masih terpaut pada harap manis yang baru mungkin.
Sedang jiwanya mulai meronta kesakitan.
Sabrina yang malang.

