

aku yang pergi.
catatan itu penting —
supaya kita tidak salah
menaruh kesalahan.
tapi tubuh tidak peduli
siapa yang memulai.
ia hanya tahu
ada sesuatu yang hilang
dari sebelah kiri dada
dan sampai sekarang
belum ada yang pas
untuk mengisinya.
korteks prefrontalku paham betul alasannya.
ia yang menyusun argumen itu —
rapi, masuk akal, bisa dipertanggungjawabkan.
tapi hippocampusku
tidak membaca memo itu.
ia masih menyimpanmu
dalam resolusi tinggi.
senyum itu.
cara kamu pegang gelas dengan dua tangan.
kebiasaan kecil yang tidak kamu sadari
tapi aku hafalkan tanpa sengaja
seperti tubuh menghafalkan
jalan pulang.
aku tidak menyesal pergi.
aku hanya menyesal
bahwa pergi dan berhenti mencintai
ternyata bukan hal yang sama.
dua hal yang berbeda.
dua hal yang bisa hidup berdampingan
di dalam dada yang sama
tanpa saling membunuh —
hanya saling diam
dan sesekali saling tatap
dari ujung ke ujung
seperti dua orang asing
yang tahu terlalu banyak
tentang satu sama lain.
sekarang aku hanya berdoa
dengan cara yang tidak terlalu keras —
bisik-bisik ke semesta
yang mungkin sedang tidak mendengarkan:
kalau memang ada pertemuan lagi,
biarkan bukan aku yang mengatur.
biarkan jalannya yang membawa.
biarkan aku tidak perlu memilih
untuk kedua kalinya.
karena aku tidak yakin
pilihanku akan sama.
dan aku tidak yakin
itu hal yang buruk.
rindu ini bukan luka.
ia lebih seperti
bekas tekanan jari
di lengan yang sudah tidak kamu pegang
tidak sakit.
sudah tidak merah.
tapi kalau ditekan pelan
di tempat yang tepat —
masih terasa
kamu pernah di sana.

