

Beberapa malam terakhir,
kepalaku dipenuhi jalan-jalan yang tak selesai,
sementara hatiku
diam-diam menyebut namamu.
Ada rindu
yang tak mengenal arah pulang.
Ia menetap
di sela doa-doa yang tak selesai,
di antara sunyi
yang tak pernah benar-benar tidur.
Aku tak tahu
apakah malam juga membawamu
ke tepian yang sama.
Barangkali tidak.
Sebab setiap hati
mempunyai cara sendiri
menanggung kehilangan.
Aku ingin percaya
bahwa waktu akan menenangkan segalanya.
Namun rupanya,
waktu lebih pandai
membesarkan risau
daripada mengecilkan rindu.
Dan pada sebuah malam
ketika langit begitu lama memeluk gelap,
aku kalah.
Bukan oleh jarak,
bukan pula oleh sepi,
melainkan oleh namamu
yang terus berbunga
di dalam ingatan.
Air mata itu pun jatuh,
perlahan—
seperti doa
yang terlalu lama ditahan
hingga akhirnya
menemukan jalannya sendiri.
Maafkan aku.
Aku masih seorang pengembara
yang membawa terlalu banyak debu
di telapak kaki,
dan terlalu banyak riuh
di dalam dada.
Belum seluruh diriku
menjadi rumah
yang pantas bagi ketenanganmu.
Andaikan kehidupan
memberi kesempatan kepada jiwa
untuk memulai sekali lagi,
aku tidak meminta
agar lebih dahulu bertemu denganmu.
Aku hanya ingin datang
sebagai lelaki
yang telah selesai berdamai
dengan luka-lukanya sendiri.
Sebab mencintaimu
tak seharusnya membuatmu
ikut memikul beban
yang lahir dari kekuranganku.
Dan jika setelah semua itu
semesta tetap tidak mempertemukan kita,
aku akan tetap bersyukur.
Sebab mengenalmu
telah mengubah caraku
memahami cinta.
Tetapi jika, pada suatu musim
langkah kita kembali saling mengenali,
semoga aku telah menjadi seseorang
yang tak lagi membuatmu cemas
tentang hari esok.
Aku menyayangimu.
Bukan seperti laut
yang ingin memiliki setiap sungai
yang bermuara kepadanya,
melainkan seperti pohon
yang diam-diam menumbuhkan rindang,
agar siapa pun
yang singgah di bawahnya,
pulang
dengan hati yang lebih teduh.

