

Barangkali
setiap manusia
datang membawa musimnya sendiri.
Ada yang mengajarkan bunga
sebelum pergi.
Ada yang meninggalkan gugur
agar akar belajar
mencintai tanah.
Aku tidak lagi mencari
siapa yang benar,
sebab air
tak pernah bertanya
mengapa batu memilih diam.
Ia hanya terus mengalir,
membawa bayang langit
yang sebentar-sebentar berubah.
Pernah ada hari
ketika kita saling percaya
bahwa waktu
dapat dijahit
menjadi rumah.
Rupanya
rumah pun mengenal musim.
Ada pintu
yang tetap terbuka,
meski tak lagi
dituju langkah.
Bila kelak
langit menanyakan
siapa yang pernah
membuat jiwaku
belajar mencintai
dengan lebih pelan,
aku akan menyebutmu
tanpa berharap
engkau mendengarnya.
Sebab ada nama-nama
yang memang lebih indah
diucapkan
di dalam doa
daripada di dalam pertemuan.

