

Hai.
Salam
dari seseorang
yang akhirnya kalah
bukan oleh waktu,
bukan oleh perpisahan,
melainkan oleh dirinya sendiri.
Aku mengira
keteguhan dapat dipelajari
seperti menghafal jalan pulang.
Ternyata,
ia hanyalah embun
yang gugur
ketika malam terlalu lama
menyimpan namamu.
Maka malam ini
ada sepasang mata
yang tak lagi sanggup
menjadi bendungan.
Air mata,
rupanya,
lebih sabar
daripada manusia.
Ia menunggu
hingga segala yang kutahan
kehabisan kata.
...
Jika ingin menyalahkanku,
lakukanlah.
Barangkali
setiap luka
memang membutuhkan
seseorang
untuk dipanggil sebagai sebab.
Dan hari ini,
aku tidak akan menyangkalnya.
Hanya saja,
ada satu hal
yang tak pernah berhasil
kuterangkan.
Bahwa di antara
apa yang seharusnya kulakukan
dan apa yang sanggup kulakukan,
terdapat jurang
yang diam-diam
kutinggali
sendirian.
Aku berdiri
terlalu lama
di tepinya.
Hingga akhirnya,
diamku
ikut memilih.
Dan barangkali,
itulah yang paling melukaiku.
Sebab ada keputusan-keputusan
yang tidak pernah kita ucapkan,
tetapi tetap lahir
karena kita
terlalu lama
tidak bergerak.

