

sore tadi, banyak pedagang berlalu lalang di depan gerbang rumah.
penjual tanaman hias, tukang mie ayam, es kelapa muda.
tak ku jumpai pedagang koran atau tukang surat yang biasanya tiap sore selalu mengetuk pintu hanya sekedar singgah memberi kabar
"Tuan, sudah terlalu mendung. langit pun butuh istirahat."
atau s'bab ia tak punya kuasa, ia meminta dengan ucapan semoga. semoga bahagia atau semoga panjang umur tanpa perlu perayaan kecil dan tiup lilin.
anak-anak kalimatku bermain petasan di halaman depan dan aku menyoraki
"jangan terlalu dekat, atau kau akan berceceran menjadi huruf-huruf yang berantakan." mereka tak menghiraukan.
dua, tiga kali ia meluncur dengan suara debum hampa, meledak dengan sia-sia.
sering kali kudapati mereka basah kuyup berlarian kesana-kemari sembari mencari tempat berteduh.
tak ada yang lebih teduh dari rapat dua kata aku kamu dan semesta yang selalu punya amin untuk doa-doa kecil kita.

