

Dulu sewaktu kecil jemariku belajar menjelajahi peta
Sesuatu tumbuh diam-diam
dari jendela bibirku.
Ia dikultus untuk menempuh tujuan yang tak pernah ada
di seluruh penjuru mata angin.
Menyilangi tikungan,
menyusuri sunyi trotoar asing,
berharap setiap langkah adalah pulang.
Kota ini terlalu besar dan liar.
Lampu-lampu yang tak pernah tidur.
di sini, mimpi-mimpi itu tak tumbuh tinggi—
mereka merayap pelan
di bawah kulit.
Setiap jalan yang kutempuh
bukan lagi tentang sampai,
tapi tentang bagaimana bertahan.
Mungkin rumah memang bukan tempat,
melainkan keberanian kecil
untuk tetap menyalakan diri.

