Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
CERPEN

Lelaki Adalah Keindahan

Oleh rahmatridwan

Aku tersentak. Mataku membelalak. Sejenak tubuhku mematung. Masih teringat jelas bagaimana rupa pria itu. Ia memandangiku yang sedang bersila dibawah pohon Akasia, pohon yang sama seperti yang berada di belakang rumah nenek di kampung halamanku di kota Kuningan, tempatku biasa melukis, membaca buku atau sekadar melamun tiap kali bertandang ke sana. Di mimpi itu, ia hanya memperhatikanku dari kejauhan, tidak ada gelagat seperti ingin mendekat. Aku balas menatapinya lekat-lekat.


Dengan tampan, ia berdiri mengenakan kemeja linen lengan panjang berwarna biru navy dengan kontur kotak-kotak, celana jeans sepadan kemejanya dan sepatu kasual yang kuduga bermerek All Star. Gayanya berpakaian mirip sekali denganku tiap kali berkuliah. Tapi bentuk wajahnya berbeda dengan wajahku. Rambutnya gondrong menjuntai sampai ke bahu, kedua alisnya menyatu, meski dari kejauhan bisa kutilik ujung hidungnya meruncing. Misai dan jambang yang tumbuh tipis di rahangnya membuat sosoknya tampak begitu manis.


“Kamu siapa?”, tanyaku heran.


Ia tak menjawab. Masih memandangiku.

Ingin kucoba bangkit, aku ingin mendekatinya. Namun ia menanggapi upaya tubuhku dengan menggelengkan kepalanya pelan, telapak tangan kanannya melebar ke arahku, mengisyaratkan agar aku tak usah mendekatinya. Akhirnya aku tak jadi bangkit.


“Terima. Terima. Terima bentuk tubuhmu sebagaimana adanya. Terima bentuk fisikmu sebagaimana takdirnya. Berhenti mengutuk dirimu sendiri. Yang dibutuhkan tubuhmu adalah kasih sayang dari pemiliknya. Bukan celaan. Jamiun Jamaludin, terima nama pemberian mendiang ibumu. Namamu punya arti yang indah. Berhenti membenci segala yang melekat di tubuhmu sedari lahir hingga saat ini. Lelaki adalah keindahan. Kamu adalah keindahan, Jamiun. Kamu bernilai. Kamu berharga”, ia memberi pesan itu kepadaku. Jarak antara tubuhnya dengan tubuhku memang jauh. Tapi suaranya terdengar nyaring dan jelas seolah ia mengucapkannya tepat di dalam telingaku.


“Kamu belum jawab pertanyaanku. Kamu siapa?”, tanyaku lagi kedua kali.


Ia memberikan seutas senyum yang membuatku ikut tersenyum, “Aku cerminan dirimu”. Dan ia menghilang sekali kejap begitu saja, seperti diisap udara.


Aku kembali sadar dari diriku yang sejak tadi termenung mengenang mimpi itu. Aku bangkit dari kasur, mengambil buku yang tergeletak di atas meja tugasku, mencoba menulis pesan panjang yang lelaki itu sampaikan. Sejak SMP, aku sudah mulai menuliskan mimpi-mimpi yang aneh. Dan mimpi kali ini penuh keanehan sekaligus menakjubkan.


***


Hari ini adalah hari kedua liburan kuliah semesterku, sudah kupesan tiket kereta untuk kepulanganku ke kota Kuningan esok hari lewat aplikasi jasa vakansi. Masih ada satu hari ini untukku jalan-jalan sebelum berangkat besok. Telah kususun tujuan-tujuan kemana akan kupergi hari ini. Meski memiliki sepeda motor pribadi, kuputuskan kali ini untuk berjalan kaki atau memesan ojek di aplikasi jasa antar di telepon genggamku. 


Kumulai dengan menghampiri sebuah tempat makan untukku sarapan yang berada tak jauh dari indekosku, cukup dilalui dengan berjalan kaki. Ketika sampai, aku disambut oleh penjual warung yang wajahnya asing, baru kulihat kali ini.


“Naon anu anjeun hoyong mesen, a?” tanyanya.


Aku melongo mendengar bahasanya yang halus. Suaranya yang lembut. Namun buru-buru tersadar pria itu tengah menunggu jawabanku.


“Mmm...”, aku bergumam, “Nasi campur ayam goreng ini aja, a, sama cah kangkung ini”, telunjukku menunjuk-nunjuk lauk yang kupilih, tersaji di dalam etalase kaca.


“Muhun, a”, balasnya singkat. “Naon anu anjeun inuman, a?”


“Es teh aja, a”. Ia tersenyum dan mengangguk pelan. Indah sekali. Manis sekali.


Setelah ia memberikan nasi dan es teh pesananku. Sambil mulai menyantap sarapanku, aku memberanikan diri mengajukan pertanyaan yang sejak tadi muncul di kepalaku, “A, maaf, aa siapanya Teh Eli, ya? Teh Elinya kemana?”


“Teh Elina keur balik ka imah, a. Putrana keur gering. Abdi teh kaponakannya. Sementara disuruh jaga warung ini dulu. Sejak kecil sudah sering bantu-bantu ibu saya jualan nasi di warung seperti ini, jadi saya sudah hapal.” Ia menjawab dengan intonasi bicaranya yang begitu lembut. Seperti suara air dalam saluran bambu di tengah hutan. Jernih, murni dan menyejukkan.


Aku hanya bisa membalas dengan manggut-manggut lamban, entah karena mengerti atau karena terbuai. Terbuai karena kepribadiannya yang begitu sopan. Terbuai karena parasnya yang indah. Rambutnya yang ikal tersisir ke kanan, matanya yang sipit dan kumis tipis yang kutebak baru saja dicukur kemarin malam atau tadi pagi. Barangkali ia satu dari banyak pria idaman yang ditaksir banyak wanita di desa Teh Eli. Mendadak aku teringat ucapan pria yang hadir dalam mimpiku semalam. Lelaki Adalah Keindahan.


“Nama aa siapa?”, aku menanyakan namanya. Aku pun bahkan tak paham kenapa pertanyaan itu meluncur dari mulutku.


“Nur Endang”.


***


Jam tangan di pergelangan tanganku menunjukkan pukul sepuluh lebih delapan belas menit. Setelah selesai sarapan aku memesan Gojek untuk mengantarku ke mal Braga City Walk. Aku ingin membeli kaus disana. Hari ini, aku hanya ingin jalan-jalan mengelilingi daerah perkotaan Bandung, selain malas,sebetulnya aku pun sedang mengirit-irit uang jajanku. 


Tukang ojek yang mengantarku tampak sangat muda. Seperti baru lulus SMA beberapa minggu lalu. Nama yang tertera di dalam aplikasi yaitu Aminudin Ayatna. Ini kali kedua kutemui pria dengan wajah yang tampan. Tekstur kulit wajahnya halus dan putih seperti bayi. Tak ada sedikitpun noda-noda bekas jerawat. Mungkin ia belum pubertas. Bulu matanya yang lentik membuat tatapannya terbingkai indah ketika ia menatap mataku. Tubuhnya menguarkan aroma coklat yang tak terlalu lekat. Membuat lubang hidungku mendapatkan udara yang menjadikannya nyaman. Aku merasa nyaman. Selama di perjalanan menuju Braga City Walk, kalimat pria dalam mimpi itu menggema lagi di kepala. Lelaki Adalah Keindahan. Dan tukang ojek muda ini adalah keindahan.


Setibanya di dalam Braga City Walk, semuanya tampak aneh. Hari ini tampak aneh. Dari mulai seorang satpam gagah yang berjaga di lobby utama ketika kumasuk tadi, sekilas kuintip nama yang menempel di name tag yang menggantung di dada kirinya, Aryanto Haliman. Petugas kebersihan di dalam toilet dengan rambut klinis memakai seragam yang dimasukkan ke dalam celana, bernama Joko Susilo. Namanya terdengar ndeso. Tapi kubersumpah rupanya menawan. Wajah bapak yang menggendong putri kecilnya, bapak yang merangkul mesra pinggul istrinya atau pemuda-pemudi yang bergandengan tangan dengan kekasihnya sambil terkikik bersama. Yang terakhir, penjaga kasir dari toko pakaian yang baru saja kubeli. Berbadan atletis dengan wajah yang tak ada kerut, manis ketika tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Namun, namanya membuat hatiku tertawa geli. Sumaryo Parianto. Ucapan lelaki itu tanpa diminta hadir lagi diingatan. Lelaki Adalah Keindahan. Dan mereka semua adalah keindahan. Dengan nama yang terdengar jadul namun berwajah tampan dan bertutur sopan, mereka begitu indah. Mereka adalah lelaki dengan segala keindahan yang kutemui hari ini. 


Seperti pepatah sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui, maka jalan-jalan hari ini pun begitu. Setelah berlama-lama mengunjungi Pasar Baru Bandung namun tidak membeli apa-apa. Tujuan selanjutnya adalah menikmati suasana Alun-Alun Bandung dari sore hingga malam. Sambil mencari tempat makan untuk menyantap makan malamku sebelum pulang ke indekos. Cukup kulalui dengan berjalan kaki. 


***


Agenda jalan-jalan santai hari ini kurasa cukup. Aku sampai di indekos sekitar pukul delapan malam. Menempuh perjalanan dengan memakai jasa antar gojek ke dua kalinya, sang pengemudi bernama Subroto Waluyo. Dialah pria tampan terakhir yang kupuja sepanjang hari ini.


Di dalam kamarku, aku merenungi pesan dari pria di dalam mimpiku semalam dengan keganjilan wajah-wajah tampan yang kutemui dari pagi hari tadi hingga malam ini. 


Apa maksud ucapan pria dalam mimpi itu?


Aku kembali membuka catatan tentang pesan mimpi yang tadi pagi kutulis. Kuamati kata perkata dari pesannya.


Namamu punya arti yang indah.


Sejak sekolah dasar aku membenci namaku sendiri. Bagiku nama Jamiun Jamaludin jelek sekali. Kampungan. Aku masih ingat bagaimana dulu teman-teman sekelas mengolok-olok namaku. Bahkan sampai memasuki jenjang kuliah sekarang pun masih banyak yang mencemooh namaku. Pernah sekali sewaktu SMP, aku bertanya kepada ibu apa arti dari namaku, ia menjawab ‘Seorang Pria Dengan Keelokan serta Keindahan’.


Samar-samar pikiranku berupaya mengingat-ingat nama para pria tampan yang kubaca namanya satu persatu. Semua nama dari mereka tidak ada yang modern. Terdengar kampungan dan terbelakang, seperti namaku. Bagai kutemukan intan dalam air sungai yang keruh. Kebingunganku beroleh kejelasan. Di balik nama mereka yang terdengar tak elok, mereka justru memancarkan kepribadian yang takzim, berbudi baik, bertutur kata yang apik, murah hati dan senyum.


Lelaki Adalah Keindahan.


Namamu punya arti yang indah.


Berhenti membenci segala yang melekat di tubuhmu sejak lahir hingga kini.


Berhenti membenci dirimu sendiri.


Nasihat-nasihat dari pria di dalam mimpi itu begitu mendamaikan.


Aku melangkah ke depan cermin yang menggantung di dinding. Mencopot kemeja yang seharian ini kupakai. Membuka gesper dan memerosotkan jin lalu kulempar semuanya ke atap kasur. Tubuhku kini telanjang bulat, hanya menyisakan satu celana dalam. Aku memandangi sosok di dalam cermin itu. Sosok yang telah kuhina habisan-habisan bertahun-tahun. Bentuk tubuh yang tak pernah berdamai dengan seseorang di dalam tubuhku ini.


Tubuhku yang sintal.


Kuucap ulang satu kata seperti mantra. Terima.


Lemak di antara perut yang bergelambir. Terima.


Ukuran tubuh yang tak jenjang. Terima.


Warna kulit di seluruh tubuhku yang berwarna hitam pekat. Terima bentuk tubuhmu sebagaimana adanya.


Kuberalih pada bagian kepala. Tekstur rambut yang kribo seperti bulu domba. Terima.


Lubang hidungku yang besar-besar mirip hidung babi seperti yang pernah diucap seorang teman semasa SMA dulu. Terima.


Bola mataku yang belo, seolah ingin mencuat keluar. Terima.


Terima bentuk fisikmu sebagaimana takdirnya.


Aku tersenyum pada sosok di dalam kaca itu.


Dialah aku. Jamiun Jamaludin. Pria Dengan Segala Keelokan dan Keindahan. Dia indah, berharga dan bernilai.


Hari ini adalah hari terganjil sepanjang hidupku. Namun hari ini adalah hari pembebasan. Kemerdekaan. Penghakiman pikiranku atas tubuhku sendiri seolah terlepas terbang. Seumpana burung yang tak lagi terkurung di dalam sangkar. Malam ini telah kutanggalkan ketidakterimaan diriku atas bentuk fisik dan nama lengkapku yang membelenggu pikiranku bertahun-tahun lamanya.


Mendadak aku ingin segera tidur dan bangun esok pagi untuk keberangkatanku ke rumah nenek di kota Kuningan. Setibanya nanti disana, aku akan duduk bersila di bawah pohon Akasia di belakang rumah nenek sambil berimajinasi akan di datangi seorang pria dalam mimpiku semalam. Sekadar ingin kuucapkan rasa terima kasih.



10-11 Juli 2019. Tangerang.


Jumat 12 Juli 2019
87
3 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Rahmat Ridwan

rahmatridwan

Mengelola komunitas Literasi Citra Raya di Tangerang

Tuliskan tanggapanmu tentang Lelaki Adalah Keindahan

dheaprasetyo

Senin 15 Juli 2019

👍💕

Baca karya Rahmat lainnya

Lelaki Adalah Keindahan

Cerpen oleh Rahmat Ridwan

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah