

Malam menghancurkan bulan
hingga menjadi serbuk kapur
lalu mengoleskannya
ke ruas-ruas tulang langit
agar kesunyian tampak seperti cahaya.
Di dadaku,
sebuah jam tua memakan jarumnya sendiri.
Waktu tidak lagi berjalan;
ia mengerat urat-urat ingatan
seperti karat yang menemukan agama
pada sebilah besi.
Aku menguburkan namaku
di bawah akar hujan.
Barangkali pohon akan memanggilku
dengan bahasa daun yang gugur
bahasa yang tak pernah memerlukan mulut
untuk mengucapkan perpisahan.
Angin membawa sekepal abu
dari perjamuan musim-musim yang hangus.
Kupikir itu hanya sisa pembakaran senja,
ternyata ia adalah masa lalu
yang terlalu lama dipanggang penyesalan
hingga berubah menjadi debu tak bernasab.
Sejak itu
aku tak lagi mencari pulang.
Aku memilih menjadi lumut
di punggung batu yang dilupakan sungai;
sebab hanya yang rela kehilangan bentuk
yang sanggup mewarisi keabadian.

