

Rindu sedang menyayat-nyayat cakrawalaku....
Memaksa tabir lisan untuk mengaku
Lirihan kalbu yang ingin bersegera beranjangsana
Dibantah oleh makhluk yang dikirim semesta...
Mulutku penuh oleh muntahan rindu
Tak kunjung dijawab oleh waktu
Hingga angin pun muskil menerjemahkan
Samar diantara dimensi kenangan
Betapa daksa terasa pelik bila tak merapalkan doa untukmu
Menumpahkan tiap-tiap rintik nestapa nan pilu
Bahkan purnama menghafal tiap larik dalam tengadah doaku
Berharap keajaiban menyentuh bekunya hati itu
Diam tanpa kata
Bukan diam tanpa rasa...
Bisu tak mesti selamanya menjadi bunyi
Dalam semak doa, kadang ia bersembunyi
Diam-diam aku merasa
Diam ini rasanya semakin menenggelamkan
Rasa-rasanya kamu diam
Rasa itu, kediamannya semakin melayang
Bogor, 2026

