

Matahari sore di atas atap seng pasar loak selalu berhasil membuat udara terasa panas berkeringat. Di balik tumpukan kardus bekas dan onderdil sepeda tua, Aksa sedang sibuk mengelap kalkulator plastiknya yang tombol angkanya sudah aus. Bajunya yang kusam dikancingkan rapi sampai paling atas—terlalu rapi untuk seorang anak 19 tahun yang saban hari hanya melayani pembeli kardus kiloan.
"Sa, lu beneran beli kemeja bekas lima puluh ribu terus mau dijual seratus lima puluh di toko online?" Rian, anak pemilik lapak sebelah, menyandarkan badannya ke tiang kayu sambil terkekeh pelan.
Aksa mendongak, matanya yang polos menatap Rian lurus-lurus tanpa berkedip. "Iya, Yan. Kata artikel yang gua baca jam tiga pagi tadi, ini namanya branding premium. Kalau barang murah dikemas rapi, nilainya naik tiga ratus persen."
Rian tertawa makin keras, memanggil dua temannya di ujung lorong. "Woi, dengar nih! Si Aksa mau jadi Steve Jobs dari pasar loak! Artikel jam tiga pagi, Sa? Lu menghitung margin aja kemarin salah lima puluh ribu!"
Aksa tidak membalas tawa mereka. Ia tidak paham di mana letak lucunya. Dengan jemarinya yang agak kaku, ia kembali menekan tombol kalkulator, menghitung ulang angka-angka yang sebenarnya sudah tiga kali gagal membiayai sewa lapaknya bulan ini. Baginya, bisnis adalah hal paling serius di dunia, dan ia hanya perlu berusaha sepuluh kali lebih keras dari orang lain karena guru SMA-nya dulu pernah bilang bahwa otak Aksa "lambat menangkap alur." Aksa tidak marah. Ia tahu ia memang tidak sepintar orang lain. Tapi ia berjanji pada dirinya sendiri: ia boleh bodoh, asal tidak pernah merugikan atau menyakiti siapapun.
"Jangan ditaruh situ kardusnya, Yan. Nanti kena tetesan oli dari motor lu, kasihan pembelinya," ucap Aksa pelan, suara dan wajahnya sama-sama datar, polos tanpa tendensi menyindir.
Sikap kaku dan kepolosan itulah yang membuat anak-anak kompleks pasar selalu punya alasan untuk menjadikannya bahan olokan. Tapi Aksa hanya mengangguk pelan setiap kali dipanggil "Bos Besar" dengan nada ejekan.
"Sepatunya kebalikan tuh, Bos Besar."
Suara itu datang bersama aroma permen karet dan derit rem sepeda minion warna merah. Nira turun dari sepedanya, melempar tas sekolahnya begitu saja ke atas bangku kayu lapak Aksa. Gadis itu kelas 12, rumahnya cuma beda dua lorong, dan hobinya adalah mampir ke tempat Aksa setiap pulang sekolah hanya untuk mengusik cowok kaku itu.
Aksa spontan menunduk menatap celana dan sepatunya. "Enggak. Ini kanan, ini kiri."
"Tapi kancing kemeja lu miring satu," Nira tertawa melengking, memajukan wajahnya sedikit. "Lu tuh serius banget sih tiap hari? Muka dilipat gitu mana ada pembeli yang mau datang, Sa."
Aksa merapikan kancing teratasnya lagi dengan canggung. "Orang beli karena butuh barangnya, Nir. Bukan karena muka gua."
"Terserah lu deh, Calon Konglomerat," Nira menjatuhkan dirinya di sebelah tempat duduk Aksa, menyandarkan kepalanya ke dinding kayu yang berdebu tanpa peduli seragamnya kotor. Ia menghela napas panjang, menatap langit sore yang mulai kemerahan. "Bapak gua ngancam mau ngusir gua gara-gara nilai matematika gua merah. Dunia kayak mau runtuh, Sa. Gua mau minggat aja rasanya!"
Aksa menghentikan usapan kainnya pada kalkulator. Jantungnya mendadak berdegup lebih cepat, bukan karena takut, melainkan karena gelombang rasa ingin menyelamatkan yang teramat besar menyeruak di dadanya. Di kepalanya yang kaku, Aksa langsung memasang postur bak pahlawan kesiangan yang merasa paling berjasa atas kewarasan gadis itu.
Kalau bukan karena gua yang tiap malam begadang mikirin jalan keluar buat psikis dia, mungkin Nira udah jadi gelandangan stres di jalanan, batin Aksa pongah, merasa dirinya adalah pilar tunggal yang menopang seluruh kehancuran hidup Nira di muka bumi ini.
Aksa menoleh dengan tatapan sok paling mengerti. "Udah, tenang. Kan ada gua. Masalah matematika lu yang nyaris menghancurkan peradaban keluarga lu itu udah gua riset rumusnya. Lu tinggal nurut sama gua, aman dunia akhirat."
Nira langsung tertawa lepas, mengejek ringan tanpa ada secercah rasa sungkan. "Dih, sok pahlawan banget lu, Sa! Padahal nilai matematika lu sendiri dulu pas SMA jongkok. Tapi... ya udahlah, emang cuma di sini tempat gua waras."
Bagi Aksa yang otaknya selalu kesulitan memproses niat jahat, kalimat itu diartikan keliru. Di kepala Aksa yang naif, ia merasa kehadirannya adalah mukjizat bagi hidup Nira. Dan sejak sore itu, Aksa memutus dalam hatinya: Nira adalah rumah yang berdiri kokoh karena fondasi pengorbanan dirinya.
Tiga bulan berlalu. Usaha jualan kemeja bekas Aksa gulung tirar karena salah menghitung biaya pengiriman. Tabungannya ludes. Rian dan anak-anak pasar makin gencar tertawa setiap kali lewat di depan lapaknya yang kini kembali cuma diisi kardus bekas.
Tapi Aksa tidak pernah merasa benar-benar hancur, karena ia merasa punya "tugas suci" menyelamatkan Nira. Setiap jam empat sore, Nira akan selalu datang. Kadang membawa es lilin, kadang cuma numpang makan gorengan sambil merengek soal dunianya yang kacau. Aksa akan mendengarkan setiap detailnya dengan lagak seorang penyelamat agung—menghafal hal-hal yang Nira sukai, sementara ia sendiri harus bekerja sampai jam dua malam demi menutupi kerugian bisnisnya yang bangkrut total. Aksa sengaja sok jual mahal, memasang muka dingin kalau Nira telat, merasa bahwa Nira harus tahu betapa berharganya waktu seorang "Aksa sang pahlawan" untuk dirinya.
Aksa percaya, selama rumah itu berdiri di atas jasanya, ia tidak akan pernah ditinggal.
Sampai pada suatu sore di pertengahan bulan November, gerimis tipis menyiram lorong pasar. Aksa sudah menyiapkan satu botol teh melati dingin kesukaan Nira yang ia beli dengan sisa uang makan gigihnya hari itu—sebuah bentuk pengorbanan agung yang ia yakini akan membuat Nira terharu setengah mati.
Dari kejauhan, Nira berjalan mendekat. Tapi langkahnya tidak sendiri. Di sampingnya, seorang cowok berjaket basket dengan senyum leluasa merangkul bahu Nira santai. Nira tertawa lepas, tawa yang sama yang biasa Aksa dengar, namun ada binar berbeda di matanya saat menatap cowok itu—binar kekaguman yang selama ini tidak pernah Nira berikan kepada Aksa.
"Sa!" panggil Nira begitu sampai di depan lapak tanpa ada rasa bersalah sedikit pun di wajahnya. "Kenalin, ini Aris. Anak IPA satu. Dia yang kemarin bimbing gua belajar matematika sampai nilai gua A! Hebat banget kan dia?!"
Aksa membatu di belakang mejanya. Bagian dadanya terasa seperti dihantam martil seberat tonan. Rasa sakit yang luar biasa, tajam dan menghujam, langsung merayap membakar tenggorokannya. Seluruh asumsi bodohnya tentang betapa "berjasanya" ia mendadak hancur berkeping-keping. Selama ini ia sok jual mahal, sok ngatur, merasa paling dibutuhkan untuk menyelamatkan hidup Nira dari ancaman diusir bapaknya—sementara di mata Nira, Aksa hanyalah sebuah tempat tongkrongan lewat yang tidak lebih penting dari tukang parkir. Nira sama sekali tidak pernah menyadari, apalagi menghargai, tetesan darah dan keringat kebodohan yang Aksa korbankan demi dirinya.
"Aris, ini Aksa," lanjut Nira santai, tersenyum lebar tanpa beban, sama sekali buta pada hancurnya hati di hadapannya. "Tempat gua numpang ngabisin waktu kalau mager pulang ke rumah, atau pas bosan nggak ada temen ngobrol. Lucu kan dia kayak patung pameran?"
"Ayuk, lu lagian ada-ada aja ngajak main ke tempat loak gini, bau kardus basah," sahut Aris sambil terkekeh, mengacak rambut Nira pelan sebelum mereka berdua berlari menembus rintik hujan sambil tertawa bersahut-sahutan.
Nira tidak pernah menoleh lagi sore itu. Tidak ada ucapan terima kasih atas teh melati dingin yang sudah dibeli dengan sisa uang makan Aksa. Tidak ada kesadaran bahwa ada hati yang remuk berkeping-keping di balik kedataran wajahnya.
Aksa berdiri diam di samping tumpukan kardus basah. Botol teh melati di genggamannya terasa sangat dingin, mencair bersama air matanya yang tumpah dalam sunyi. Dadanya sesak oleh rasa sakit yang teramat sangat—bukan hanya karena kehilangan, tapi karena kebodohannya sendiri yang terlalu percaya diri merasa paling berjasa bagi seseorang yang bahkan tidak pernah menganggapnya lebih dari sekadar tempat berteduh saat gerimis.
Aksa perlahan duduk di kursi kayunya yang reyot. Ia membuka tutup botol teh melati itu, meminumnya sendirian di tengah dinginnya angin sore, lalu dengan tangan bergetar, ia kembali menyalakan kalkulator plastiknya yang mati.
Bogor, 2026

