

Bandung di pertengahan November tahun sembilan puluh empat selalu menyisakan aroma dingin yang menusuk ceruk dada. Di bawah naungan seng berkarat warung Mbok Sum dekat lapangan sekolah, udara sore terasa pekat oleh uap tanah basah dan jelutang aspal yang terguyur hujan. Dako duduk melipat kaki di atas lincak bambu yang berderit pasrah. Jemarinya yang berkulit tembaga menggenggam erat cangkir kaleng berenamel hijau yang mengelupas di pinggirnya, membiarkan uap hangat jamu beras kencur mengusap wajahnya yang kaku.
Di sekelilingnya, botol-botol kaca jamu gendong berdiri bisu dengan cairan beraneka warna. Orang-orang lewat mengenakan jaket parasut warna-terang, menenteng tas ransel kusam, atau sekadar berlari kecil menghindari cipratan genangan air. Bagi Dako, sore berjalan dengan lambat, persis seperti jarum jam dinding kelas sejarah yang macet di angka tiga.
"Ko, kamu teh ya,itu lambung apa gilingan batu? Jam segini malah meluk botol jamu gendong. Mau nyalon jadi dukun beranak, hah?"
Derit rantai sepeda minion merah yang agak karatan dan aroma tajam permen karet rasa stroberi mendadak membuyarkan lamunan Dako. Dila menjatuhkan tas kainnya ke atas lincak begitu saja, menciptakan benturan pelan yang menerbangkan debu-debu halus. Gadis itu mengibaskan sisa rintik air dari ujung rambutnya yang dipotong sebahu, lalu meniup-niup jemarinya yang kedinginan.
Dako mendongak pelan. Matanya yang tajam di balik potongan rambut belah tengah menatap Dila tanpa terburu-buru. Di tengah bisingnya deru motor vespa dan suara angkot yang mendesak di jalan raya sebelah lapangan, kehadiran Dila selalu terasa seperti jeda yang tenang—kulit langsat yang tersiram remang lampu pijar warung, sepasang gigi gingsul yang mencuat manis tiap kali bibirnya cemberut, serta hidung minimalis yang bergerak-gerak kecil saat ia menarik napas.
"Bukan dukun, Dil," sahut Dako datar, suaranya pelan nyaris tenggelam oleh suara hujan yang menimpa seng. "Kopi itu ibarat Kurawa. Penampilannya meriah, baunya memikat, tapi manisnya penuh tipu daya dan bikin jantung meloncat tak karuan. Lah, jamu ini? Ini bagaikan Pandawa Lima. Sederhana, rasanya jujur, pahit di awal tapi menentramkan batin hingga ke relung terdalam."
Dila mendengus pelan sambil terkekeh renyah, bahunya bergetar kecil. "Sumpah ya, si Dako mah! Otak kamu tuh isinya selalu silsilah pewayangan dari dulu nggak pernah libur. Lama-lama aku karungin kamu, terus dikirim pakai oplet ke alun-alun Jogja."
Dako tidak menjawab. Ia hanya mengamati cara Dila merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah sisir kecil plastik berwarna merah muda, lalu merapikan poninya yang basah di depan cermin kecil yang menggantung di tiang warung.
Di dalam kepalanya, Dako merajut sunyi. Bagi Dako, hidup tidak lebih dari sebuah panggung kelir besar. Manusia hanyalah wayang-wayang kecil yang digerakkan oleh nasib, sementara dalangnya duduk di balik layar yang tak pernah bisa disentuh. Dako ingin menemukan kemungkinan yang lain dalam hidup—ia ingin mencintai Dila dengan cara yang berbeda, tanpa harus membelenggu atau menuntut. Bagi Dako, mengisyaratkan keberadaannya lewat tindakan sederhana sudah lebih dari cukup.
Namun sialnya, Dila tetaplah seorang perempuan yang butuh kepastian. Sebuah pelabuhan yang punya koordinat jelas, bukan sekadar tempat singgah yang kabur.
Dila menghentikan gerakannya. Ia meletakkan sisir kecilnya di atas meja bambu, lalu menatap cangkir teh manis miliknya yang mulai dingin. Hening menyergap di antara mereka berdua.
"Ko..." panggil Dila pelan. Suaranya datar, menyimpan tumpukan lelah yang terpendam. "Sebenarnya... kita ini sebetulnya mau dibawa ke mana sih?"
Dako tidak memberikan jawaban lisan apa pun. Lidahnya terkunci rapat. Ia hanya meraih cangkir kalengnya, menyesap sisa beras kencur yang mulai dingin, lalu membenarkan letak tali tas sekolah Dila yang hampir meluncur jatuh dari tepi lincak. Sebuah isyarat pelan, tindakan kecil yang selama ini selalu ia anggap cukup untuk mewakili seluruh isi dadanya.
Dila menatap jemari Dako yang menyentuh tasnya. Ada senyum kecil yang terbit di bibirnya—senyum lelah yang mengesahkan kekecewaan. Dila pernah menduga bahwa Dako adalah pria yang bisa menyembuhkan luka batinnya, sosok tenang yang akan menemaninya merapikan pecahan masa lalu. Namun sore itu, Dila menyadari bahwa harapan itu hanya bertepuk sebelah tangan pada sebuah bayangan.
Beberapa bulan kemudian, Dako harus menerima satu kenyataan yang jujur: pada akhirnya, mereka berdua sama-sama sembuh dari desakkan pertanyaan-pertanyaan pelik dalam hati mereka berdua. Bedanya, Dila sembuh dengan orang baru sedangkan Dako sembuh dengan berjalannya waktu.
Dako kembali ke dunianya di Jogja. Menikmati udara dingin Malioboro, derit roda oplet, dan denting gamelan yang sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Di sana, di tengah aroma tanah basah kota kelahirannya, Dako merayakan mati rasanya sendiri.
Ia tidak pernah menyesal. Sebab baginya, Dila tidak pernah benar-benar hilang. Dila sudah menjadi abadi di dalam larik-larik puisinya, tersimpan rapi di sela lembar kertas kusam yang tak akan pernah lapuk. Lagipula, dunia memang hanya sebatas panggung sandiwara tempat setiap lakon harus menemukan babak usainya. Dan begitulah cara Dako belajar untuk dewasa.

