Lihat lah kita disini , terjebak dalam satu relevasi yang mengatas nama kan hati.
Hunusan ke baskara hingga cakrawala
Layaknya rasa dalam kendi kelabu itu.
Bukanya susah untuk bicara namun apakah ada diksi yang sesuai dengan lembayung jingga kali ini.
Salah tertuah selaksa nestapa dari ufuk biru hingga jingga.~
Hati ku tak terasa lagi ada dirumah nya , setiap hari selaksa bertandang tanpa buah tangan tanpa pemberian.
Apa hati ku tak lagi candu untuk mu
Kedatangan ku bukan lagi hal yang kau tunggu
Sorak ku tak lagi penyemangat mu~
Apa ada yang lebih baik dari apa yang ku beri , apakah hati ku yang terlalu mudah untuk lenyap dari ingatan mu , atau dirimu yang perlahan belajar tidak kenal tentang ku. Mungkin ku terlihat hina bagi pandangan mu yang sudah seluas dunia ini, atau atma ku yang tak ingin terlalu luas memandang dunia ini , cukup paras mu saja yang ku pandangi. ~
Aku tak ingin tertatih tatih meminta tentang mu , namun ingat lah aku yang menemani mu dari nirmala hingga kamu mulai menjadi permata. Sekarang hanya tinggal nestapa yang ku rasa , dan kau yang sudah merasa benar di langkah mu derap mu yang penuh ambisi. Cukuplah aku sebagai bagian kecil dari potongan puzzle dirimu , dari diri ku yang tak akan lengkap tanpa derap ku , namun hanyalah risalah hati hadirku tak seistimewa itu ~
Hari pun sudah termaram
Mentari yang sudah dilumat gelap gulita
Diiringi lelap ku yang kurasa cukup menjejali arah mu
Semua tentang mu padaku sudahlah relevan dengan mengatas namakan hati
Yang kini mulai lelah dan terlelap~